Penulis sekaligus global marketing executive Mira Sumanti resmi meluncurkan buku debutnya berjudul Swipe Therapy. Acara peluncuran ini digelar di Zodiac Jakarta pada 23 Januari 2026, menghadirkan kisah reflektif tentang cinta, patah hati, dan pencarian jati diri di era modern. Buku ini juga sering disebut sebagai Eat Pray Love versi generasi Tinder, dengan pendekatan yang lebih personal kepada pembancanya dan relevan dengan kisah hubungan masa kini.
Kisah Jujur di Tengah Dating Apps
Melalui buku ini, Mira membagikan fase paling rapuh dalam kehidupannya, mulai dari rencana pernikahan yang batal sampai dengan kembali menavigasi dunia dating apps. Cerita dalam buku ini tidak hanya berfokus pada pencarian pasangan, melainkan perjalanan memahami diri sendiri.
Dating Apps sebagai Ruang Refleksi
Dalam buku ini, dating apps diposisikan sebagai ruang eksperimen emosional. Mira menulis tentang pola relasi, ekspektasi, serta luka yang sering tidak kita disadari.
“Aku menyebutnya Swipe Therapy, setengah bercanda. Tapi semakin lama, aku sadar ini bukan tentang mencari ‘The One’. Ini tentang melihat diriku sendiri, swipe demi swipe,” Ungkap Mira.
Bukan Sekadar Kisah Cinta, Ini Proses Berdamai dengan Diri Sendiri

Swipe Therapy menghadirkan potongan pengalaman personal yang membentuk pemahaman baru tentang batasan, keinginan, dan identitas diri. Kisah di buku ini ditulis sebagai proses belajar, bukan sekadar romansa. Buku ini berlatar berbagai kota seperti Jakarta, Bali, San Francisco, hingga Tokyo, yang merefleksikan dinamika cinta modern di ruang urban.
Dari Zodiac Jakarta ke Pasar Global
Presale Swipe Therapy resmi diumumkan pada 23 Januari 2026 di Zodiac Jakarta. Sementara itu, peluncuran global dijadwalkan berlangsung pada 3 Maret 2026. Buku ini akan tersedia secara internasional melalui Amazon dan Barnes & Noble, serta dapat dibeli di Indonesia melalui Tokopedia.
Sosok di Balik Swipe Therapy

Mira Sumanti merupakan global marketing executive dan creative storyteller yang pernah berkairir di sejumlah perusahaan global, termasuk Adidas dan Google. Pengalaman lintas budaya tersebut yang membentuk sudut pandangnya dalam menulis Swipe Therapy, yang menjadi buku pertamanya.