Sejak 2023, Jonathan Andy Tan dan Jerome Kurnia membangun Two Stitches. Brand ini tidak hanya berfokus pada tampilan, tetapi juga cerita di balik pakaian. Keduanya membawa pendekatan berbeda. Andy datang dari dunia styling. Sementara itu, Jerome membawa perspektif storytelling dari film.
Berangkat dari Ide, Pakaian sebagai Medium Cerita
Sejak awal, Two Stitches hadir dengan visi yang jelas. Pakaian diposisikan sebagai medium naratif. Setiap koleksi dirancang untuk membawa cerita. Pemakainya bisa menginterpretasikan sesuai gaya masing-masing. Pendekatan ini membuat mereka tidak sekadar mengikuti tren. Mereka justru membangun arah sendiri.
Koleksi Awal yang Penuh Eksplorasi
Lewat koleksi perdana, Nines, karakter Two Stitches langsung terlihat. Desainnya eksperimental dan penuh twist. Inspirasinya datang dari hal sederhana di sekitar. Ini jadi pembeda dari brand lain. identitas brand juga dibuat lebih halus. Tidak ada logo besar yang dominan. Detail kecil justru jadi penanda utama.
Perpaduan Dua Perspektif Kreatif
Kolaborasi Andy dan Jerome jadi fondasi utama. Latar belakang mereka berbeda, tapi saling melengkapi. Styling dan storytelling bertemu dalam satu arah kreatif. Hasilnya terasa lebih konseptual. Mereka tidak hanya membuat pakaian. Mereka juga membangun makna di baliknya.
Cara Baru Melihat Fashion
Pendekatan Two Stitches terasa berbeda di tengah industri fashion saat ini. Banyak brand berlomba mengikuti tren cepat. Namun, Two Stitches memilih jalur yang lebih personal. Mereka menawarkan cara baru dalam melihat pakaian. Bukan sekadar apa yang dipakai, tapi juga cerita di baliknya. Hal ini membuat brand terasa lebih dekat dengan penggunanya.
Two Stitches Sejak 2023
Sejak diperkenalkan pada 2023, Two Stitches terus berkembang. Brand ini konsisten dengan eksplorasi dan narasi. Pendekatan ini membuatnya tetap relevan. Terutama di industri fashion yang cepat berubah. Dengan arah yang jelas, Andy dan Jerome membawa Two Stitches lebih dari sekadar brand. Ini menjadi ruang ekspresi yang terus berkembang.